Sabtu, 07 November 2015

PENGELOLAAN Ph TANAH

pH tanah merupakan indikator ( petunjuk ) tentang kemasaman dan kebasaan. Pada umumnya tanah memiliki kisaran pH antara 4-10. pH dari suatu tanah tertentu misalkan antara 5 atau 8, mempengaruhi sifat lingkungan dan kimia mineral tanah tersebut, sehingga pH tanah berpengaruh sangat penting terhadap pertumbuhan akar tanaman dan aktivitas mikrobia. Atas dasar alasan tersebut diatas maka pH tanah merupakan salah satu faktor yang sangat penting yang mempengaruhi kesuburan tanah. Oleh karena itu pH tanah perlu dikelola untuk meningkatkan hasil tanaman.

DEFINISI pH
            Secara kimia, pH menunjukkan aktivitas H+. pH tanah merupakan logaritme negatif konsentrasi H larutan tanah.

             1
pH = log -------
              ( H+ )

Dimana ( H+ ) adalah berat atom H+ per liter, atau g/l atau

pH = -log ( H+ )

pH air murni adalah 7 dihitung sebagai berikut :
    1
pH = log---------------- = log 10.000.000 = 7,0
         0,0000001
     pH = -log 10-7 = -(-7) = 7

PENENTUAN pH TANAH

pH tanah ditentukan dengan mencampur tanah dengan air dengan perbandingan berat 1 : 1. Lima belas gram tanah kering udara lolos mata ayakan diameter 2 mm dimasukkan kedalam bekergelas yang volumenya 100 ml, dan ditambah 50 ml aquadest. Campuran tanah dan aquadest diaduk selama 1 jam.
            Penentuan pH dilapangan dapat dilakukan secara cepat dengan menggunakan pH stick ( kertas pH ) : acilit, netralit.
            Ada beberapa faktor yang mempengaruhih penentuan pH tanah :
1.        Konsentrasi ion H yang dekat dengan permukaan koloid dapat mencapai 100 sampai 1000 kali lebih besar dari pada dalam larutan tanah. Jika suspensi tanah kemudian dibiarkan sampai tanahnya mengendap, maka nilai pH pada cairan diatas endapan akan lebih tinggi dari pada pH pada endapan tanah.
2.        Perbandingan antara air dan tanah, semakin banyak air yang diberikan pada suatu jumlah tanah tetentu, pH tanah semakin menningkat.
3.        Kadar garam yang larut didalam tanah mempengaruhi nilai pH tanah. Dan hal ini akan timbul apa bila menggunakan larutan CaCl2 atau KCl sebagai pengganti air murni.
Jika konsentrasi larutan garam yang digunakan berkisaran antara 0,07 sampai 1M, nilai pH tanah menjadi lebih rendah 0,5 – 1,5 unit daripada pH tanah dengan menggunakan air suling. Kation dari larutan garam sangat efektif untuk menghasilkan XA13+ ( dan barang kali beberapa XH+ ) didalam larutan yang berasal dari Al hidroksida  tergantung pada tingkat kemasaman tanah. Akibatnya hidrolisis dari Al tertukar dan Al hidroksida akan meningkatkan konsentrasi ion H dalam larutan. Reaksinya sebagai berikut :

Al3+ + H20 < ==== > Al ( OH )2+ + H+

Al ( OH)2+) +H2O < ==== > Al ( OH )2+ + H+
Tetapi tanah yang bermuatan positif akan memiliki nilai pH tinggi jika penentuan pH nya menggunakan larutan KCl, karena ion – ion hidroksil akan digantikan oleh ion Cl.

Fe (OH)2+ + KC1 < ======== > FeC12 + 2KOH

KOH < ====== > K+ + OH-
 Jika membandingkan nilai pH berbagai macam tanah, maka penting metode penentuannya harus sama. Metode penentuan pHdengan KCl terkenal digunakan didaerah tropis; di daeerah tropis nilai pH digunakan untuk menentukan kebutuhan kapur. Penentuan pH dengan H2O adalah terkenal dilakukan di USA. Tetepi dari kenyataan bahwa pH contoh tanah kering angin dilaboratorium akan berbeda nilainya dengan pH tanah yang langsung ditentukan dilapangan yang ditanami. Hal ini karena adanya perbedaan kadar air, kadar garam, dan produksi CO2 dari pernapasan akar dan kegiatan mikroorganisme.

Rangkaian perubahan – perubahan pH tanah
Beberapa bahan induk dan tanah – tanah muda pHnya alkalis, tetapi tanah – tanah yang tua dan pelapukannya intensif pHnya masam. Perubahan pH ini adalah berkaitan dan paralel dengan perubahan dari sifat mineralogi dan kimia yang terjadi setiap saat. Sejumlah besar proses dapat mengembangkan kemasaman tanah misalnya : kehilangan caCO3 dari bahan induk, kehilangan kation – kation tertukarkan ( Ca, Na, K, Mg ) akibat pelindian, masukan secara alamiah senyawa – senyawa masam dari presipitasi, nitrifikasi, oksidasi S, produksi co2, akumulasi kompleks Al hidroksida, komplek Al organik, dan Al tertukarkan. Pelapukan mineral – mineral primer adalah penyokong besar terhadap terjadinya  kebasaan tanah dengan dikonsumsinya H+ dan diproduksinya OH- dan pembebasan kation – kation Ca++, Mg++, K+, dan Na+ dari mineral.

Tanah – tanah Alakali
1.        Tanah sodik memiliki 18 % atau lebih kejenuhan Na, dan pH tanah selalu dikendalikan oleh hidrolisis dari ion Na dari garam Na, atau dari keduanya menghasilkan pH yang berkisar antara 8,5 kira – kira 10. Contoh reaksinya : 

Na2CO3 + H2O < ===== > 2Na + HCO3- + OH-

2.        Tanah yang bersifat kapuran ( banyak mengandung kapur ) dan mengandung sedikit atau banyak % CaCO3, maka hidrolisis CaCO3  akan menghasilkan OH- pada proses yang sama dengan reaksi terebut diatas. pelarutan CaCO3 yang pada umumnya rendah dan terjadi perlahan – lahan, menghasilkan OH- yang lebih  sedikit pada tanah kapuran jika dibandingkan dengan tanah sodik. Ini berarti bahwa tanah kapuran memiliki pH tanah maksimum hanya sampai kurang lebih 8,3, jika tanah tersebut berada seimbang dengan kadar CO2 yang normal dalam atmosfir. Pelarutan CO2 sebagai hasil respirasi akar – akar tanaman dan kegiatan mikroorganisme dapat menghasilkan asam karbonat untuk membentuk kantong – kantong lokal tanah yang masam dalam tanah alkali.
Nitrifikasi, oksidasi S, dan lain-lain proses, secara terus-menerus manghasilkan H+. Pengendapan senyawa-senyawa masam secara alamiah terjadi, apabila dalam keseimbangan dengan kadar CO2 atmosfiryang normal, dan pH tanahnya sebesar 5,67. Pengendapan juga merupakan sumber yang terus-menerus menghasilkan kemasaman tanah. Penambahan kemasaman tanah didalam tanah-tanah alkalin ini akan dinetralkan; dalam tanah kapuran misalnya, reaksinya adalah :

CaCO3 + 2H < ======= > Ca2+ + H2O + CO2

Ion H+ diubah menjadi H2O, sehingga sifat alkalinya terpelihara atau tanah tetap alkalin.

Pembentukan dan sifat-sifat tanah masam
pH tanah adalah sangat erat berkaitan dengan presipitasi (curah hujan) : yaitu pada daerah araid dan subhumid cenderung pHnya alkali atau netral, dan kebayakan tanah pada daerah humid adalah masam 
Seperti lazimnya kemasaman tanah ditetapkan dengan satuan ukuran pH, secara kimiawi murni pH 7 disebut netral. pH dibawah 7 disebut masam dan pH diatas 7 dinamakan basa atau alkalin. Makin jauh dibawah 7 kemasaman semakin meningkat, sedangkan makin jauh diatas 7 kebasahan atau alkalinitas makin tinggi. Menurut ketersediaan hara didalam tanah bagi tanaman, pH netral bukanlah bersifat optimum. Dalam tanah mineral pH bagi ketersediaan tertinggi kebanyakan unsur hara ialah 6,5 dan dalam tanah organik ialah 5,5. Jadi “kenetralan” menurut kimiawi tanah berbeda dengan pengertiannya menurut kimiawi murni. Menurut kimiawi tanah kenetralan berkaitan dengan keadaan keharaan yang terbaik bagi tanaman dan bukan mengenai keseimbangan antara kadar H+ dan OH-.

Dalam daftar di bawah ini disajikan pH optimum bagi beberapa tanaman.
Tanaman
pH
Tanaman
pH
Padi
6,0 – 7,0
Kubis
6,0 – 7,0
Jagung
6,0 – 7,0
Seledri
6,0 – 7,0
Kacang tanah
6,0 – 6,5
Selada
6,0 – 7,0
Tebu
6,5 – 8,0
Asparagus
6,0 – 7,0
Tembakau
5,0 – 6,0
Wortel
5,5 – 6,5
Teh
5,0 – 5,5
Cabai
6,0 – 6,5
Kopi
5,0 – 6,0
Tomat
6,0 – 7,0
Kentang
5,0 – 7,0
Labu
5,5 – 6,5
Bawang merah
6,0 – 7,0
Lobak
6,0 – 7,0
Kedelai
6,0 – 7,5
Semangka
6,0 – 6,5
Pisang
6,0 – 7,0
Melon
5,0 – 5,5
Jeruk orange
5,5 – 7,0
Sorgum
5,5 – 7,0
Coklat (cacao)
6,0 – 7,0
Anggrek
4,0 – 6,0
Kelapa
6,0 – 8,0
Mawar
6,0 – 8,0
Apokat
6,0 – 8,0
Nanas
5,0 – 6,0

Jika pH lebih rendah dari optimum, terjadi kakahatan (deficiency) unsur-unsur hara makro dan bersamaan dengan itu terjadi peningkatan ketersediaan unsur-unsur hara mikro, yang dapat melampaui batas sehingga bersifat meracun. Pada pH lebih tinggi dari optimum hampir semua unsur hara makro berketersediaan rendah dan hampir semua unsur hara mikro bersifat kahat. Dengan kata lain, pH tanah merupakan salah satu faktor penting yang mengatur keadaan lingkungan ion dalam tanah. Persoalan yang biasanya timbul dalam tanah masam ialah :
1.        Kekahatan Ca, Mg, dan P.
2.        Kekahatan Cu (terutama dalam tanah organik) dan Mo (terutama untuk tanaman legum)
3.        Keracunan A1 dan Mn; kadang-kadang juga keracunan Fe.
4.        Laju penguraian bahan organik sangat lambat (daur nitrogen dalam sistem tanah tanaman terganggu; kemempanan (efektivitas) bahan organik dalam ameliorasi struktur tanah menurun).
Berdasarkan persoalan mengenai keharaan tanah yang ditimbulkan oleh pH rendah tersebut diatas maka yang disebut tanah masam adalah tanah-tanah yang mempunyai pH kurang daripada 5,0. Yang mempunyai pH 5,5 pH 7,0 meskipun secara kimia termasuk masam, tidak digolongkan kedalam tanah masam karena tidak memerlukan perlakuan khusus dalam kaitannya dengan pH.
Tanah-tanah masam di indonesia terdiri atas tanah podsolik, latosol, podsol, organosol, dan bagian terbesar tanah aluvial hidromorf. Tanah podsolik dan podsol bersifat masam karena berasal dari bahan induk masam dan telah mengalami pelapukan intensif yang disertai pelindian kuat. Tanah latosol bersifat masam karena telah mengalami pelapukan intensif dan pelindian kuat. Kemasaman tanah organosol ditimbulkan oleh perombakan bahan organik yang menghasilkan berbagai asam organik. Banyak tanah aluvial hidromorf menjadi luar biasa masam (kurang dari 3,5) karena senyawa pirit yang dikandungnya terosidasi menjadi asam sulfat, disamping jarosit yang terbentuk. Karena itu tanah semacam ini dinamakan tanah sulfat masam atau sulfurik. Hampir semua tanah masam di indonesia berada diluar jawa, sehingga mau tidak mau perluasan lahan pertanian diluar jawa harus berurusan dengan tanah-tanah masam itu. 54% luas daratan indonesia tertutup oleh tanah-tanah masam. Diantaranya tanah podsolik merupakan bagian yang terluas yaitu 27% luas daratan indonesia.
Dikalangan tanah-tanah masam, latosol adalah yang terbaik, terutama dilihat dari segi keadaan fisiknya. Kerentanan terhadap erosi lebih kecil daripada tanah podsolik dan podsol. Persoalan yang terkait pada kerendahan pH juga tidak seberat yang ada dalam tanah podsolik dan podsol. Maka potensi untuk dikembangkan lebih baik daripada tanah podsolik dan podsol.
Di daerah-daerah humid pelarutan garam-garam dan pemindahan karena pelindian pada tanah-tanah kapuran dan tanah alkali lainnya menyebabkan tanah menjadi nonsalin dan noncalcareous. Tanah pada keadaan ini 100% dijenuhi oleh Ca dan Na dan akan memiliki pH kurang lebih 7,5. Tanah tersebut jika dibandingkan dengan tanah kapuran, telah banyak kehilangan kemampuannya untuk menetralkan kemasaman. Ion H dari senyawa masam, yang secara tetap dan secara alamiah ditambahkan kedalam tanah, secara teratur akan menukar kedudukan Ca, dan Na dan kation-kation ini akan terlindi yang bereaksi dengan anion-anion. Dalam situasi yang ditunjukan dibawah ini menggambarkan pelindian Ca(NO3)2 :

CaX + 2HNO3 < ====== > 2HX + Ca(NO3)2

Kehilangan Ca....Na dan akumulasi (tertimbunnya) A1 hidroksida yang berasal dari pelapukan akan diikuti oleh penurunan pH. Sangat menarik adanya kejadian bahwa praktek pertanian tertentu dapat menyokong perkembangan kemasaman tanah dalam arti sama dengan proses alamiah. Dari keadaan asam nitrat yang dihasilkan oleh proses nitrifikasi N yang difiksasi oleh tanaman leguminosae dan N yang ditambahkan kedalam tanah berupa pupuk alam dan pupuk amonion.
Pemasukan secara alamiah senyawa masam dari air hujan, respirasi, nitrifikasi, menyebabkan tanah menjadi masam liwat pelindian. Semakin banyak presipitasi, akan semakin banyak masukan senyawa-senyawa masam, keduanya baik berasal dari presipitasi maupun berasal dari asosiasi aktivitas biologi.
Dipihak lain kemasaman tanah akan menstimulir pelapukan mineral primer. Pelepukan semacam itu cenderung akan menghasilkan kebasaan, seperti yang digambarkan pada pelapukan mineral albit :
NaA1Si3O8 + 4H2O + 4 H+ < ====== > Na+ A13+ + 3Si (OH)2
Kebasaan akan meningkat karena ion H dikonsumsi dan dihasilkan ion OH. Ion Na, (dan Ca, Mg, dan K) yang dibebaskan oleh pelapukan dapat diadsorpsi sebagai kation-kation tertukar, dan A1 bersama-sama dengan Si membentuk lempung silikat atau terakumulasi sebagai A1 hidroksid.

Tes laboratorium cara-cara menentukan kebutuhan kapur
1.        Metode larutan buffer woodruff’s
Metode ini mengukur sejumlah hidrogen tertukarkan dalam tanah dan kebutuhan kapurnya dihitung atas dasar hasil pengukuran jumlah hidrogen tertukarkan. Sebagaimana diketahui bahwa pH tanah tergantung pada konsentrasi ion H tertukarkan. Jumlah ion H tertukarkan didalam tanah biasanya dinyatakan dalam me/100 g tanah. 1 me H dalam tanah akan memerlukan 1 me Ca untuk menggantikan H.
         B. A.            1
Berat equivalent H = ------------ = -------- = 1
       Valensi           1

              B. M.         100
Berat molekul CaCO3 = ------------ = -------- = 50 mg
Valensi          2
Diperlukan 50 mg CaCO3 setiap 100 g tanahnya.
Jika tanah 1 ha sedalam lapis olah dengan BV = 1,2 g. Cm-3, berat tanahnya = 2,4 X 109 g.
Dibutuhkan kapur :
50 x 2,4 x 109 x 10-2 mg
= 1200 kg = 12 kw = 1,2 ton.
Analisis H tertukarkan menurut metode buffer woodruff’s :
Buatlah larutan buffer yang terdiri atas 8 g nitrofenol, 40 g calcium acetat dan 0,625 g magnesium oksida, semuanya dilarutkan kedalam 1 liter air suling. Reaksi larutan tersebut dipertahankan pada pH 7 dengan menambahkan KC1 atau MgO seperlunya.

Cara penentuan H tertukar
5 g tanah kering angin lolos mata saring 2 mm, 5 ml air suling, dan 10 ml larutan buffer diaduk dengan stirrer dalam gelas piala selama 30 menit. pH tanah akan turun tergantung kemasaman tanahnya. Maka setiap penurunan pH 0,1 unit dari pH 7 menuju ke 6 setara dengan 1 me H tertukar dalam 100 g tanah. Apabila pH suspensi turun dibawah 6 ini menunjukan bahwa H tertukarnya lebih dari 10 me/100 g tanah, maka permukaan harus diulangi dengan menggunakan tanah 2,5 g tanah. Tiap turun 0,1 unit pH sama dengan 2 me H/100 g tanah.

Cara menghitung kebutuhan kapurnya
Misalkan pH suspensi turun mencapai 6,65, ini berarti penurunannya sebesar 3,35 unit pH dan menunjukkan H tertukarnya 3,5 me/100 g tanah. Jika hasil perhitungan diatas 1 me memerlukan 12 kw/ha maka 3.5 me memerlukan 3,5 x 12 kw = 42 kw = 4,2 ton CaCO3. Dalam pH meter yang lengkap biasanya langsung menunjukkan angka kebutuhan kapurnya.
Penyesuaian untuk didaerah tropis pH buffernya tidak dipertahankan sampai 7 tetapi cukup sampai 6 saja karena pH tanah didaerah tropis jarang mencapai 7, akibat kuatnya pelindian.

2.        Metode Ca (OH)2
Metode ini berupa peningkatan pemberian jumlah larutan standart Ca(OH)2 0,01 N ke dalam 10 g tanah, kemudian diaduk dengan stirrer, selanjutnya didiamkan selama 3 hari, selanjutnya pH suspensi di ukur. Jumlah Ca(OH)2 yang diperlukan untuk mencapai pH tanah yang dikehendaki dapat diketahui, kemudian jumlah kebutuhan kapur diterjemahkan kedalam ton per hektar.

Caranya :
Sediakan 0.01 N Ca(OH)2 yaitu dengan cara melarutkan 0,3705 g Ca(OH)2 kedalam air suling, jadikan volume 1 liter.
1 me = 0,5 grol = 74/2 = 37 g (1 N). Jika membuat 0,1 digunakan 37/10 = 0,37 g.
Isilah 8 buah bakerglas dengan tanah kering angin yang beratnya masing-masing 10 g. Tuangkan larutkan Ca(OH)2 0,1 N berturut-turut dengan volume : 0 ml; 5 ml; 10 ml; 15 ml; 20 ml; 30 ml; 40 ml; dan 50 ml.
Tambahkan air suling secukupnya kedalam tiap bakerglas untuk mendapatkan perbandingan berat antara tanah dengan larutan sebesar 1 : 5. Maka pertambahannya berturut-turut  : 50 ml; 45 ml; 40 ml; 35 ml; 30 ml; 20 ml; 10 ml; dan terakhir 0 ml.
Selanjutnya campuran tersebut diaduk dengan stirrer atau digojog  selama 3 hari, kemudian diukur pHnya.

Perhitungan :
Misalkan kita memilih bakerglas yang pemberian Ca(OH)2 nya 30 ml 0,01 N, maka jumlah kebutuhan kapur untuk pH tanah tersebut dapat dihitung sebagai berikut :
Me Ca(OH)2 / 10 g tanah = volume larutan Ca(OH)2 yang ditambahkan dikalikan dengan normalitas = 30 x 0,01 = 0,3 me
    100
Untuk 100 g = ----------- x 0,3 me = 3,0 me.
     10
1 me Ca(OH)2            = 74/2 mg
= 37 mg Ca(OH)2
3 me Ca(OH)2 = 3 x 37 mg = 111 mg/100 g tanah.
Untuk 1 ha tanah sedalam 20 cm, BV = 1 g. Cm-3, berat tanahnya = 20 x 108 cm3 x 1 g. cm-3 = 2 x 109 g
   2 x 109 g
Kebutuhan kapurnya = --------------------- x 111 mg = 2,22 x 109 mg
      100
     = 2,22 ton Ca(OH)2

3.        Metode SMP (shoemaker & Mc. Clean & Pratt) buffer method
Mirip dengan metode woodruff’s
Caranya :
10 g tanah kering angin lolos mata saring < 2 mm diberi larutan buffer SMP pH 7,5 sebanyak 20 ml diaduk selama 30 menit, kemudian pH suspensi diukur. Penurunan pH menunjukkan kebutuhan kapurnya. Dalam daftar dibawah ini dapat dilihat kebutuhan kapur (CaCO3) murni berapa kg/ha.

Daftar 1 : kebutuhan kapur untuk mencapai pH 7,0; pH 6,5; pH 6,0; untuk tanah-tanah mineral dan pH 5,2 untuk tanah organik ton/ha sedalam lapis olah.
pH
Tanah +
Buffer
Kebutuhan kapur ton/ha
Tanah mineral untuk pH              Tanah organik untuk pH
     7,0         6,5         6,0                             5,2 
6,8
3,46            2,97       2,47                           1,73
6,6
8,40            7,17       5,93                           4,45             
6,4
13,60          11,61     9,39                           7,17
6,2
18,53          16,81     12,85                         9,88
6,0
23,72          20,02     16, 31                        12,60
5,8
28,91          24,22     19,77                         15,32
5,6
33,85          28,66     23,23                         18,04
5,4
39,04          33,11     26,93                         20,76
5,2
44,23          37,31     30,39                         23,23
5,0
49,42          49,17     33,85                         25,95
Metode ini direkomendasikan hanya untuk mencapai pH tanah mineral yang dikehendaki berkisar antara 6,0 – 7,0, dan mencapai pH tanah organik yang dikehendaki tidak lebih dari 5,2, sebab kalau lebih dari 5,2 ketersediaan beberapa unsur hara mikro menurun.
Pembuatan larutan buffer :
Larutan :     1, 8 g p-nitrophenol     |
                        2,5 ml trietanolamine  |
                        3,0 g kalium kromat    > kedalam 800 ml air
                        2,0 g kalsium asetat     | suling
                        40,0 g CaCl2                |
Jadikan pH buffer menjadi 7,5 dengan menggunakan asam hidro klorida atau menggunakan Na(OH), kemudian larutan dijadikan 1 liter dengan ditambah air suling.

4.        Metode kurva kebutuhan kapur
Caranya :
1.         Contoh tanah dikering anginkan dan diayak dengan mata ayakan 2 mm
2.         Basa-basa tertukarkan (Ca, Mg, K, Na), didesak dengan 0,05 N HCl sampai filtratnya bebas dari basa-basa tersebut.
3.         Cl didesak dengan membilas tanah tersebut dengan menggunakan air suling.
4.         Pembilasan selesai menghasilkan tanah yang jenuh dengan H (dapat diuji dengan pH meter).
5.         Tanah kemudian dikering anginkan lagi dan disaring lagi dengan mata ayakan 2 mm.
6.     17 contoh tanah seberat 5 g setara dengan berat tanah kering mutlak ditempatkan masing-masing pada gelas piala yang berukuran 100-150 ml.
7.    Tambahkan 0,1 N NaOH berkisaran antara 0-50 ml kedalam gelas piala, dan jadikanlah  volume semua gelas piala menjadi 50 ml dengan urutan sebagai berikut :
No contoh
Pemberian NaOH 0,1 N (ml)
Pemberian air suling (ml)
1
0,00
50,00
2
0,25
49,75
3
0,50
49,50
4
1,00
49,00
5
2,00
48,00
6
3,00
47,00
7
4,00
46,00
8
5,00
45,00
9
10,00
40,00
10
15,00
35,00
11
20,00
30,00
12
25,00
25,00
13
30,00
20,00
14
35,00
15,00
15
40,00
10,00
16
45,00
5,00
17
50,00
0,00
8.         Suspensi kemudian diaduk sampai merata, semua gelas piala kemudian ditutup dan dibiarkan (diinkubasikan selama 48 jam) agar semua larutan masuk kedalam agregrat-agregat tanah.
9.         Setelah tercapai keseimbangan, tentukan pH tanah pada tiap-tiap gelas piala.
10.     Kemudian diplot pH nya pada ordinat (vertikal) dan jumlah me NaOH/100 g tanah pada absisnya (horisontal).


Jumlah pemberian 0,1 N NaOH dikonversikan kedalam me NaOH/100 g tanah dengan mengalikan NaOH yang ditambahkan dikalikan normalitas x 100/5.
Misalkan 10 ml x 0,1 x 20 = 20 me NaOH. Kemudian dikonversikan kepada kebutuhan CaCO3.
1 me NaOH setara dengan 1 me CaCO3
20 me NaOH setara dengan 20 me CaCO3
1 me CaCO3 = 100/2 = 50 mg
Dalam 100 g tanah = 20 x 50 mg CaCO3 = 1000 mg
Berat tanah 1 ha sedalam 20 cm BV = 1 g.cm-3
= 20 x 108 cm-3 x 1 g.cm-3 = 2 x 109 g
Kapur yang diperlukan = 2 x 109
    ---------- x 1000 mg = 2 x 104 kg
       100
     = 20 ton CaCO3/ha.

5.        Penentuan kebutuhan kapur atas dasar aluminium dapat ditukar (Aldd) didalam lapisan olah.
Secara tersederhanakan, reaksi bahan kapur kalsuim karbonat dalam tanah ditinjau dari netralisasi aluminium adalah sebagai berikut :
3 CaCO3 + 3 H2O -------- > 3 Ca2+ + HCO3- + 3 OH-
Al3+ + 3 OH- -------------- > Al (OH)3
(Mengendap)
Kamprath (1970) menyarankan agar rekomendasi pengapuran didasarkan atas Aldd yang penentuannya dengan ekstraksi HCl 1 N dan takaran bahan kapur ditentukan dengan mengalikan miliekuivalensi Aldd per 100 g tanah dengan faktor 1,5. Ini menghasilkan jumlah miliekuivalen Aldd dibutuhkan 1,5 miliekuivalen kalsium yang setara dengan 1,65 ton kalsium karbonat per hektar. Angka tersebut berasal dari perhitungan sebagai berikut :
1 me Al3+/100 g tanah setara dengan 1,5 me Ca++/100 g
1 me Ca = 40/2 = 20 mg/100 g tanah.
1,5 me Ca = 1,5 x 20 mg = 30 mg Ca
Berat tanah satu hektar sedalam lapis olah 20 cm dengan
BV = 1,1 g.cm-3 = 2.2 x 109 g
Berat Ca yang dibutuhkan untuk 1 ha = 2.2 x 109 g
    ---------------- x 30 mg
          100 g
  = 66 x 107 mg = 660 kg.
100
CaCO3 yang diperlukan = ----------- x 660 kg = 1650 kg = 1,65 ton
40

6.        Penentuan kebutuhan kapur atas dasar % kejenuhan Al
Pengapuran tanah didaerah tropis didasarkan atas jumlah kapur yang diperlukan untuk meniadakan pengaruh keracunan Al, mengurangi kemasaman tanah, dan menyediakan unsur kalsium.
Kacang tanah, jagung dan kedelai dapat mencapai pertumbuhan maksimal berturut-turut pada pH 5,2, pH 5,5 dan antara pH 5,5 – pH 6,0. Dengan demikian penentuan kebutuhan kapur yang diberikan pada tanah mineral masam didasarkan atas :
1.         Tanaman apa yang akan diusahakan.
2.         Berapa banyak aluminium yang harus ditekan agar pertumbuhan tanaman mencapai titik maksimum.
Dibawah ini disajikan % kejenuhan aluminium dan pH tanah yang diperlukan untuk beberapa tanaman keras dan tanaman pangan yang ditanam ditanah mineral untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal.
Daftar : % kejenuhan Al dan pH tanah yang diperlukan beberapa tanaman ditanah mineral masam.
No
Tanaman
% kejenuhan Al
pH tanah
1
Karet
60 – 80
4,5 – 5,5
2
Kopi, jeruk, rambutan
40 – 60
4,5 – 5,5
3
Padi
40 – 60
4,5 – 6,0
4
Jagung
40
5,5
5
Polongan
20
5,5 – 6,0
6
Sayuran
20 – 40
5,0 – 5,5
                             me Aldd
Kejenuhan Al =  ----------- x 100 %
                               KPK
Contohnya : KPK = 35 me %      kejenuhan Al   = 5/15 x 100 % = 500/15
                            Aldd = 5 me %                               = 33,3 %
Misalkan untuk tanaman polongan dapat hidup pada kejenuhan
Al = 20 %, maka kelebihannya = 33,3 – 20,0 % = 13,3 %
 13,3
     = ------- x 15 me = 1,995 dibulatkan = 2,0 me
 100
Kebutuhan kapurnya = 2 x 1,65 ton CaCO3 = 3,3 ton CaCO3

7.        Penentuan kapur dilapangan
Penetapan kebutuhan kapur dengan prosedur larutan penentuan pH
1.         Ambil sebongkah kecil tanah yang diperoleh dari hasil campuran tanah lapisan atas antara kedalaman 0 – 30 cm.
2.         Masukkan kedalam botol plastik ukuran kira-kira 50 ml (atau botol plastik bekas rol film).
3.         Masukkan larutan penentuan pH kedalam botol plastik yang telah berisi tanah. Jumlah larutan yang ditambah kira-kira sama dengan jumlah tanah berdasarka isi. Untuk menghemat disarankan tidak melebihi dari 10 ml larutan penentuan pH.
4.         Kemudian kocok dengan pengaduk sehingga seluruh tanah hancur. Ranting pohon atau kayu dapat digunakan sebagai pengaduk.
5.         Biarkan untuk beberapa menit hingga seluruh tanah mengendap, dan cairan diatasnya bening.
6.         Celupkan kertas pH kedalam cairan bening tadi. Usahakan kertas pH tidak terbenam kedalam lumpur tanah yang ada dibawahnya. Bila hal ini terjadi maka warna kertas pH diselimuti oleh lumpur.
7.         Tentukan pH nya (sebut saja pH x).
8.         Cari selisih pH (/ \ pH) dengan cara mengurangkan pH 6,0 dengan pH yang diukur pada butir 7.
/ \ pH = pH 6 – pHx
9.         Dari selisih pH ini kita dapat menduga jumlah aluminium yang dapat dipertukarkan berdasarkan persamaan :
Y = 0,5 + 3,16 x yang Y = Aldd (me/100 g) dan x adalah / \ pH.

Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari diskusi bareng