Jumat, 13 November 2015

KLASIFlKASI TANAH

Tanah memiliki sifat dan ciri yang berbeda-beda perbedaan ini dapat dilihat dari warna, kelas tekstur serta faktor lainnya. Tindakan yang ditujukan mengelompokan tanah dengan memperhatikan perbedaan sifat dan ciri merupakan suatu tindakan klasifikasi. Klasifikasi tanah merupakan upaya untuk membeda-bedakan tanah berdasarkan atas sifat dan ciri yang dimilikinya. Tindakan ini sangat penting karena tanah dengan sifat yang berbeda memerlukan perlakuan yang berbeda, sehingga peluang terjadinya salah pengelolaan dapat di kurangi sekecil mungkin.
Berdasarkan kegunaannya, klasifikasi tanah dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :
§  Klasifikasi Alami
§  Klasifikasi Teknis.
Klasifikasi Alami merupakan klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat tanah yang dimilikinya tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut. Klasifikasi ini memberikan gambaran dasar terhadap sifat fisik, kimia, mineralogi tanah.
Klasifikasi Teknis merupakan klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat-sifat tanah yang mempengaruhi kemampuan tanah untuk kegunaan tertentu, contoh : Klasifikasi Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Perkebunan / Sawah, dll.

KLASIFIKASI TANAH YANG DIGUNAKAN DI INDONESIA
            Sistem klasifikasi tanah (sistem klasifikasi alami) yang ada di dunia sangat beragam, karena banyak negara mengembangkan sendiri sistem klasifikasi yang digunakan untuk negara itu sendiri. Di Indonesia sampai sekarang ini memiliki paling sedikit 3 sistem klasifikasi tanah yaitu  : 
§  Klasifikasi Pusat Penelitian Tanah (Dudal & Soepraptohardjo, 1957/1961; PPT, 1981/1983)
§  Klasifikasi FAO/UNESCO (1970)
§  Klasifikasi USDA (Soil Survey Staff, 1975)

5.1. Klasifikasi tanah sistem Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT).
        Sistem klasifikasi tanah Pusat Penelitian Tanah Bogor telah banyak dikenal dengan nama sistem Dudal-Soepraptohardjo (1957). Sistem ini mengemukakan bahwa untuk keperluan survei tanah Indonesia telah dikembangkan sistem klasifikasi tanah berdasarkan konsep Baldwin (1938) serta konsep-konsep lain yang dikemukakan dalam “Soil Survey Manual” (USDA, 1951). Dasar-dasar klasifikasi tanah  dari sitem ini adalah :
-          Dasar kriteria untuk klasifikasi adalah sifat morfologis
-          Klasifikasi dilakukan pada tingkat katagori yang berbeda-beda
-          Satuan peta tanah dapat terdiri dari beberapa satuan tanah untuk peta berskala kecil.
-          Klasifikasi tanah harus dikaitkan dengan kegunaannya untuk survey tanah.
-          Korelasi yang sistematik dan terus menerus merupakan kegiatan terpadu antara klasifikasi tanah dan survey tanah.
Sistim pusat penelitian tanah menggunakan 6 katagori yaitu :
-          Golongan (ordo)
-          Kumpulan (Subordo)
-          Jenis (Great group)
-          Macam (Subgroup)
-          Rupa (Family)
-            Seri          
          Pada katagori Ordo sistem Dudal-Soepraptohardjo membagi tanah atas dasar perkembangan profil yaitu : katagori “dengan perkembangan profil” dan “tanpa perkembangan profil”. Pada Subordo didasarkan atas susunan horison utama.

5.2. Sistim Klasifikasi FAO/UNESCOSistim ini dibuat oleh FAO/UNESCO dalam rangka pembuatan peta tanah dunia. Sistim ini hanya mengembangkan dua kategori, yaitu tingkat great group dan subgroup. Pada tingkat yang leb1h tinggi atau rendah, tidak dikembangkan. Untuk pengklasifikasian digunakan horizon-horison penciri yang sebagian diambil dari Taksonomi Tanah USDA.. Contoh penamaan tanah sbb:

Great Group : Cambisol. Subgroup : Humic Cambisol (Cambisol yang banyak mengandung humus)

5.3.SISTIM KLASIFIKASI TAKSONOMI TANAH USDA
          Sistim Klasifikasi Taksonomi Tanah mempakan sistim yang banyak dikenal di selumh dunia. Sistim ini bersumber pada Sistim 1938 yang mendasarkan pengelompokan seri tanah pada kategori yang lebih tinggi (Soil Survey Staff, 1975). Sistim 1938 telah dilakukan berbagai perubahan oleh Thorp dan Smith (1949) serta Riecken dan Smith (1949) pada Great group dan beberapa definisi yang telah ada, Berkembangnya pengetahuan tentang tanah mengakibatkan munculnya sifat-sifat tanah yang sebelumnya tidak diketahui, dan ketika seri tanah mengalami peningkatan dalam jumlah yang banyak maka Sistim 1938 mulai menunjukkan kelemahannya (Soil Survey Staff, 1975). Hal ini disebabkan oleh makin sulitnya memasukkan seri tanah ke dalam kategori yang lebih tinggi karena definisi dari famili tanah yang tidak jelas, sehingga ada seri tanah yang secara bersamaan dapat dimasukkan ke dalam kategori yang lebih tinggi (Birkeland, 1974), Kenyataan ini mendorong untuk dilakukan pengembangan suatu sistim klasifikasi tanah yang bersifat komprehensif yang dapat menampung segala pembahan karena adanya penemuan seri tanah yang barn. Pengembangan tersebut dipelopori oleh Guy D. Smith sejak tahun 1951 sampai terwujudnya konsep Taksonomi Tanah Tahun 1972 setelah melalui tujuh pendekatan serta suplemen-suplemennya, yang kemudian dibakukan sebagai Handbook No, 436 Tahun 1975 (Soil Survey Staff, 1975). Di daerah tropika, Sistim Klasifikasi Taksonomi Tanah dilakukan beberapa pengujian lebih lanjut. Perubahan dan penyempurnaan dari beberapa definisi taksa dilakukan. Selanjutnya seiring dengan penemuan bukti-bukti yang barn, dilakukan pengembangan penelitian terhadap Suborder Andept untuk dinaikkan kategorinya menjadi Order, yang pada akhirnya dapat ditetapkan mulai Tahun 1990. Sejak tahun tersebut pada Sistim Klasifikasi Taksonomi Tanah terdapat 11 Order. Pengklasifikasian tanah menurut sitim taksonomi tanah secara detil dapat dilihat pada Keys to Soil Taxonomy dari Soil Survey Staff (1994), yang merupakan pengembangan dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa kunci dari pengklasifikasian tanah, antara lain adalah deskripsi dari horison dan batasan dari masing-masing order serta kelas di bawahnya. Berikut disampaikan ringkasan dari horison-horison penciri dan klasifikasi tanahnya:


RINGKASAN HORISON PENCIRI UNTUK TANAH MINERAL DAN TANAH ORGANIK
            Untuk keperluan klasifikasi tanah, selain penggolongan horison tanah ke dalam horizon A, B, C,D dan sebagainya, perlu diidentifikasi horizon penciri baik berupa epipedon, horizon bawah (Subsurface), maupun sifat-sifat penciri lain.

B.   EPIPEDON
Epipedon adalah horizon permukaan tetapi tidak sinonim dengan horizon A, mungkin lebih tipis dari horizon A, tetapi mungkin pula meliputi horizon B. Berikut ringkasan dari masing-masing epipedon :
Epipedon Histic    : Horison permukaan yang mengandung bahan organik tinggi ( > 20%).
Epipedon Mollic   : Mengandung bahan organik > 1 %, warDa lembab dengan value kurang dari 3.5, ketebalan 18 cm, kejenuhan basa ~ 50 %

Epipedon Umbric     : Seperti Epipedon Mollic, tetapi kejenuhan basanya < 50 %

Epipedon Anthropic : Seperti Epipedon Mollic, tetapi mengandung > 250 ppm P205  larut dalam asam sitrat.

Epipedon Ochric : Horizon berwarna terang (Value lembab lebih dari 3.5), bahan organik kurang dari  1 % atau keras - sangat keras dan masif.

Epipedon Plaggen       : Tebal ³ 50 cm, hitam, terbentuk karena permukaan organik (pupuk
                                         kandang) yang terns menerus.
Horison lain yang ditemukan di permukaan sebagai penciri klasifikasi tanah adalah :
Horizon Arenic
-          Horison yang mengandung pasir deng(Jn ketebalar60 cm dan terletak di alas horison Argillic.
Horizon Glossarenic
-          Seperti Horison Arenic, tetapi tebalnya lebih dari 100 cm

HORISON BAWAH PENCIRI:
Horizon Agric    : Horison di bawah lapisan olah, terdspst akumulasi debu, Klei,dan humus
Horizon Albic     : Horison berwama pucat (horizon A2), wama dengan value lembab > 5
Horizon Argillic : Horison penimbunan Klei, merupakan horison B yang minimum
                               mengandung Klei 1.2 kali di horison lebih banyak dari pada Klei atasnya.
                               Terdapat selapur Klei, ketebalan maksimum 30 cm.
Horizon Calsic   : Ketebalan ~ 15 cm atau lebih, mengandung karbonat (CaCO3 atau MgCO3)
                               sekunder  yang tinggi.

Horizon Cambic: lndikasi lemah adanya Argillic atau Spodic, tetapi tidak memenuh syarat untuk kedua horison tersebut.

Horizon Gypsic
-          Horison yang banyak mengandung gipsum (CaSO4) sekunder.
Horizon Kandic
-          Seperti Argillic tetapi, ketebalan maksimum 30 cm. KTK (Na4OAc) < 16 me/100g Klei, daD KTK efektif (jumlah basa-basa + Aldd) < 12 me/100g Klei.
Horizon Natric
-          Horison Argillic yang banyak mengandung Na.
Horizon Oxic
-          Ketebalan ³ 30 cm, KTK (Na4OAc) < 16 me/100g Klei, dan KTK efektif (jumlah basa-basa + AIdd) < 12 me/100g Klei.
Horizon Petrocalsic
-          Horison Calsic yang mengeras.
Horizon Petrogypsic
-          Horison Gypsic yang mengeras

Horison Salic

-          Ketebalan  ³ 15 cm atau lebih, banyak mengandung garam-garam sekunder yang mudah larut.
Horizon Sombric
-          Horison berwarna gelap, sifat-sifat seperti Epipedon Umbric, terjadi iluviasi humus tanpa Al dan tidak terletak di bawah Horizon Albic.
Horizon Spodic
-          Horison iluviasi (timbunan) seskuioksida bebas dan bahan organik.
Horizon Sulfuric
-          Horison yang banyak mengandung sulfat masam (Cat Day), pH < 3,5.
-          Terdapat karatan terdiri dari jarosit.

HORISON PENCIRI UNTUK TANAH ORGANIK
Bahan Fibric
-          Kandungan bahan organik kasar (fibrik) lebih dari 2/3.
Bahan Hemic
-          Kandungan bahan organik dengan tingkat pelapukan kasar 1/3 - 2/3.
Bahan Sapric
-          Kandungan bahan organik kasar kurang dari 1/3.
Bahan Humlluvic
-          Iluviasi humus setelah lama untuk bercocok tanam (pada tanah organik).
Bahan Limnic
-          Endapan organik atau anorganik dari mahluk hidup di air.
PENCIRI KHUSUS
Konkresi
-          Senyawa tertentu yang mengeras, berlapis konsentris (memusat). Bahan yang disementasikan misalnya : kapur, besi, mangan, dan silikat.

Padas (Pan)
-          Horison atau lapisan yang sangat memadat. Pemadatan oleh besi, kapur, Klei, debu (bentukan genetis atau karena tekanan/berat)
Orterde
-          Penimbunan besi dan bahan organik tanpa sementasi.
Ortstein
-          Penimbunan besi dan bahan organik dengan sementasi.
Fragipan
-          Lapisan tanah yang teguh, mudah pecah, kepadatan tinggi. Tampak memadas hila kering, tetapi mudah pecah hila lembab.
Duripan
-          Lapisan tanah yang teguh, tidak tembus air dan akar.
Padas Klei (Clay Pan)
-          Lapisan atau horison yang padat, kaya Klei, batas dengan horison di atasnya jelas.
Krotovinas
-          Corak yang berbentuk pipa tak teratur dalam suatu horison, terbentuk dari bahan yang berasal horison yang lain.

Plinthite

-          Bahan Klei lapuk, kaya seskuioksida, miskin humus, biasanya sebagai karatan-karatan merah diatas dasar kelabu atau dasar merah dengan karat an kelabu atau putih, berbentuk "poligonal" atau beralih "irreversible" ke konkresi dalam keadaan basah dan kering berulang-ulang ; batas-batas ke atas dan ke bawah baur atau berangsur- angsur.

Slickenside

-          Permukaan-permukaan licin dan mengkilap disebabkan oleh massa tanah satu dan lainnya saling menggesek/menggeser.
Selaput Klei (Clay Skin)
-          Selaput Klei aluminium silikat, biasanya terdapat di bidang-bidang belahan struktur atau dalam pori-pori dan terletak sejajar dengan bidang-bidang belahan struktur. Selaput Klei ini mengandung atau tidak mengandung bahan organik dalam jumlah nyata mengeras hila kering. Bagian lapisan yang mengeras berwarna merah, biasanya mengandung karatan kilning, abu-abu atau putih.

Kontak Lithic
-          Batas tanah dengan bahan di bawahnya yang keras dan padu.
Kontak Paralitik
-          Batas tanah dengan bahan di bawahnya yang lunak dan padu.

REGIM TEMPERATUR (Untuk Kedalaman Tanah  ±  50 cm)

Pargilic

-          Suhu tanah rata-rata tahunan kurang dari 0°C (Permafrost)

Cryic

-          Suhu tanah rata-rata tahunan antara 0° C 8o C, suhu musim panas rata-rata kurang dari 15°C.

Frigid

-          Suhu tanah rata-rata tahunan O°C - SaC, pada musim panas suhu rata-rata lebih panas , dari Cryic (lebih dari 15°C).

Mesic

-          Suhu tanah rata-rata tahunan 8°C - 15°C.

Thermic

-          Suhu tanah rata-rata tahunan 15°C - 22°C.

Hyperthermic

-          Suhu tanah rata-rata tahunan lebih dari 22°C.

Iso (Frigid, Mesic, Thermic, Hypertermic)
-          Perbedaan suhu tanah rata-rata musim panas dan musim dingin kurang dari 5°C. Suhu tanah rata-rata tahunan = Frigid, Mesic, Thermic, Hyperthermic.

Tropic

-          Mempunyai sifat Iso dan suhu tanah rata-rata tahunan lebih dari 8°C (Isomesic atau lebih panas)

REGIM KELEMBABAN (Untuk Kedalaman antara 10 - 90 cm)
Aquic
-          Tanah sering jenuh air, sehingga terjadi reduksi. Ditunjukkan oleh adanya karat an dengan warna khroma rendah.
Aridic atau Torric
-          Kering lebih dari 6 bulan (bila tanah tidak pemah beku). Tidak pernah lembab 90 hari berturut-turut atau lebih setiap tahun.
Perudic : Curah hujan setiap bulan selalu melebihi evapotranspirasi.
Udic :Tanah tidak pernah kering 90 hari (kumulatif) setiap tahun.
Ustic :Tanah setiap tahun kering lebih dari 90 hari (kumulatif) tetapi kurang dari 180 hari.
Xeric :Hanya terdapat di daerah beriklim Mediteran (Non Iso). Setiap tahun kering lebih dari 45 hari berturut-turut di musim panas, lembab lebih dari 45 hari berturut-turut di musim dingin.

TATA NAMA
Salah satu hal yang barn dalam sistem Taksonomi Tanah adalah penggunaan tata nama. Nama-nama tanah selalu mempunyai arti, yang umumnya menunjukan sifat utama dari tanah tersebut :
§  Pada Kategori Order nama tanah selalu diberi akhiran Sol (Solum = tanah), sedang suku kata sebelumnya menunjukan, sifat utama tanah dari tanah tersebut. Pada kategori yang lebih rendah dart order akhiran Sol tidak digunakan lagi, sebagai gantinya untuk menunjukan hubungan sifat-sifat tanah dari kategori tinggi ke kategori rendah digunakan akhiran yang merupakan singkatan dari nama masing-masing order tersebut.
§  Nama-nama pada kategori Suborder terdiri dari dua suku kata sedangkan Greatgroup terdiri dari tiga suku kata yang masing-masing menunjukan sifat-sifat utama dari tanah tersebut. Suku kata terakhir menunjukan nama dari Order tanah.
§  Nama Subgroup digunakan dua patah kata di mana kata ke dua merupakan nama Great group sedang kata pertama menunjukan sifat utama dari Subgroup tersebut.
§  Pada tingkat Family, tanah diberi nama secara deskriptif yang umumnya menerangkan susunan besar butir, susunan mineralKlei, regim suhu tanah, atau sifat- sifat lain yang spesifik dan mempengarnhi pertumbuhan tanaman.
§  Pada tingkat Seri, tanah diberi nama menurnt nama tempat dimana tanah tersebut pertama kali ditemukan.
Contoh :
Order                 : Ultisol (ultus = akhir, perkembangan tanah pada tingkat akhir)
Suborder           : Udult (udus = humida, lembab, tidak pemah kering)
Great group       : Tropudult (tropikos = daerah tropis, terus menerus panas dengan sifat iso)
Subgroup           : Aquic Tropudult (Aquic = air, kadang-kadang berair)
Famili                : Aquic Tropudult, berKlei halus, kaolinitik, isohipertermik
                            Kaolinitik = mineralKlei yang dominan adalah kaolinit
                            Isohipertermik = suhu tanah lebih dari 22°C, perbedaan suhu musim panas dan musim dingin kurang dari 5°C).
Seri                    : Granada (pertama kali ditemukan di daerah Granada)


Tabel : Arti Nama-nama Tanah dalam Tingkat Order dan Akhiran untuk Kategori yang Lebih Rendah
Nama Order
Akhir Untuk Kategori Lain
Arti Asal Kata
ALFISOL
ALF
Dari Al – Fe
ANDISOL
AND
Ando, tanah hitam
ARIDISOL
ID
Aridus, sangat kering
ENTISOL
ENT
Dari Recent
GELISOL
EL
Gelare, membeku
HISTOSOL
IST
Histos, Jaringan
INCEPTISOL
EPT
Inceptum, Permulaan
MOLLISOL
OLL
Mollis, lunak
OXISOL
OX
Oxide, oksida
SPODOSOL
OD
Spodos, abu
ULTISOL
ULT
Ultimus, akhir
VERTISOL
ERT
Verto, berubah

. SIFAT - SIFAT TANAH DALAM TINGKAT ORDER TAKSONOMI TANAH
Sistim Klasifikasi Taksonomi Tanah mengelompokan tanah ke dalam 11 order. Ringkasan dan penjelasan dari masing-masing order disampaikan sebagai berikut :

Tabel : Order Tanah dan Penciri Utama menurut Sistim Taksonomi Tanah.
Order
Penciri Utama
Horison Penciri
Sifat-Sifat Penciri Lain
Alfisol
Horison Argilik
Kejenuhan basa tinggi (³ 35%)
Andisol
-
Mempunyai sifat Andik pada seluruh lapisan
Aridisol
-
Tanah di daerah iklim arid (sangat kering)
Entisol
Hanya ada epipedon Ocric, Albic atau Histic
-
Gelisol
-
Mempunyai sifat Gelik (membeku setiap tahun.
Histosol
Epipedon Histik tebalnya ³ 40 cm
-
Inceptisol
Horison Kambik
-
Mollisol
Epipedon Molik
Kejenuhan basa seluruh solum > 50 %
Oxisol
Horison Oksik
-
Spodosol
Horison Spodik
-
Ultisol
Horison Argilik
Kejenuhan basa rendah ( < 35 %)
Vertisol
-
Sifat vertik *), lebih dari 30 % Klei
Keterangan  :
*) Musim kering mengkerut, tanpa pecah-pecah, musim hujan mengembang tanah sangat lekat.
Keterangan lebih lanjut dari masing-masing order tanah tersebut adalah sebagai berikur :

Alfisol
-          Tanah-tanah yang terdapat penimbunan Klei di horison bawah ( Horison Argilik ) dan mempunyai kejenuhan basa tinggi  ³ 35 %) pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah.
-          Klei yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci ke bawah bersama dengan gerakan air.
-          Tanah ini dulu dikelompokan pada Tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadang- kadang juga Podzolik Merah Kuning.
Andisol
-          Tanah yang mempunyai sifat-sifat Andik dalam suatu/ seluruh subhorison, baik itu berupa timbunan (Burried) maupun bukan timbunan, yang berketebalan 35 cm di dalam 60 cm dari permukaan tanah atau dari batas lapisan organik yang bertemu dengan lapisan yang mempunyai sifat-sifat andik.
-          Tanah ini dulu disebut Andosol atau Suborder Andept.

Aridisol

-          Tanah-tanah yang mempunyai kelembaban tanah Arid (sangat kering). Mempunyai Epipedon Okrik, kadang-kadang dengan horison penciri lain.
-          Dulu disebut Desert Soils.
Gelisol
-    Tanah yang selalu membeku karena suhu sangat dingin.

Entisol

-          Tanah yang masih sangat muda, yaitu barn tingkat permulaan dalam perkembangan.
-          Tidak ada horizon penciri lain kecuali Epipedon Okrik, Albik, atau Histik (ENT - Recent = baru).
-          Tanah-tanah yang dulu termasuk kelompok ini adalah Tanah Aluvial, Regosol.

Histosol

-          Tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20 % (tekstur pasir), atau lebih dari 30 % (tekstur Klei).
-          Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya: 40 cm. (Histos = Jaringan).
-          Tanah ini sehari-hari disebut Tanah Gambut, Tanah Organik, atau Organosol.

Inceptisol

-          Merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang dari pada Entisol (Inceptum = Permulaan).
-          Umumnya mempunyai Horison Kambik.
-          Umumnya tanah ini cukup subur, karena belum berkembang lanjut.
-          Tanah ini dulu termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Latosol, Gleihumus, dan lain-lain.

Mollisol

-          Tanah yang mempunyai Epipedon Molik dengan tebal lebih dari 18 cm yang  berwarna hitam (gelap)
-          Kandungan bahan organik .> 1 %,  kejenuhan basa > 50 %. Agregasi tanah baik sehingga tanah tidak keras bila kering (Mollisol = lunak).
-          Tanah ini dulu disebut Chernozem, Brunizem, Rendzina, dan lain-lain.

Oksisol

-          Tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Kandungan Klei tinggi tetapi tidak aktif sehigga kapasitas tukar kation rendah (kurang dari 16 me/100 g Klei).
-          Kandungan oksida besi atau oksida Al tinggi.
-          Di lapang tanah ini menunjukan batas-batas horison yang tidak jelas.
-          Tanah ini dulu disebut tanah Latosol (umumnya Latosol merah atau merah kekuningan), Lateritik, atau juga Podzolik Merah Kuning.

Spodosol

-          Tanah yang di lapisan bawah mempunyai penimbunan Fe dan Al serta humus (Horizon Spodik), sedangkan di lapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (Albik).
-          Tanah ini dulu disebut tanah Podzol.

Ultisol

-          Tanah-tanah dimana terjadi penimbunan Klei dihorison bawah (Horison Argilik), bersifat masam, kejenuhan basa < 35 %.
-          Tanah ini dulu disebut tanah Podsolik Merah Kuning yang banyak terdapat di Indonesia, kadang-kadang Latosol dan Hidromorf Kelabu masuk dalam kelompok tanah ini

Vertisol

-          Tanah dengan kandungan Klei tinggi (> 30 %) di seluruh horison dan mempunyai sifat mengembang serta mengkerut. Pada saat kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras, sedangkan pada saat basah mengembang dan lengket.
-          Tanah ini dulu disebut Grumusol atau Margalit.

5.4.PADANAN NAMA TANAH PADA BEBERAPA SISTIM KLASIFIKASI
Mempertimbangkan sampai saat ini masih banyak penggunaan nama tanah pada beberapa sistim klasifikasi, maka bersama ini disampaikan padanan nama-nama tanah pada beberapa sistim klasifikasi :

Tabe1 : Penyederhanaan Padanan Nama Tanah pada Beberapa Sistim Klasifikasi                            (Hardjowigeno, 1995)

Dudal – Soeprapto Harjo
(1957 ,1961)
Modifikasi PPT
(1978 / 1981)
FAO – UNESCO
(1970)
USDA Soil
Taxonomi (1975)
1. Organosol
Organosol
Histosol
Histosol
2. Litosol
-          Litosol
-          Ranker
-          Litosol
-          Ranker
-          Entisol
-          Litic Sub group
3. Tanah Aluvial
Tanah Aluvial
Fluvisol
-          Entisol
-          Inceptisol
4. Regosol
Regosol
Regosol
Entisol
5. Renzina
Renzina
Renzina
Rendoll
6. Grumusol
Grumusol
Vertisol
Vertisol
7. Andosol
Andosol
Andosol
Inceptisol
8. Podsolik Coklat
Kambisol
Cambisol
Cambisol
9. Podsolik Coklat Kekelabuan
Podsolik
Acrisol
Ultisol
10. Brown Forest Soil
Kambisol
Cambisol
Inceptisol
11. Latosol
-          Kambisol
-          Latosol
-          Lateritik
-          Canbisol
-          Nitosol
-          Ferralosol
-          Inceptisol
-          Ultisol
-          Oxisol
12. Podsolik Merah Kuning

-          Podsolik

-          Acrisol

-          Ultisol

13. Mediteran
Mediteran
Luvisol
-          Alfisol
-          Inceptisol
14. Podsol
Podsol
Podsol
Spodosol
15. Glei Humus
Gleisol Humik
Gleisol
Aquept
16. Glei Humus Ren-dah
Gleisol
Gleisol
Aquept
17. Hidromorf Kela-bu
Podsolik Gleiik
Acrisol  Gleic

18. Aluvial Hidro- morf
Gleisol Hidrik
Flufisol
Hidraquent
19. Planosol
Planosol
Planosol
Aqualf


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari diskusi bareng